Jumat, 05 Mei 2017

Takdir Terbaik

Yang paling kurisaukan dari perkawinan tanpa persiapan
bukanlah perkawinan itu sendiri. Melainkan nasib anak-anak
yang kelak mereka miliki.
@noffret


Diriwayatkan oleh Soe Hok Gie, bahwasanya seorang filsuf Yunani berkata, “Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan. Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda. Dan yang tersial adalah umur tua.”

Di antara banyak kalimat Soe Hok Gie, kalimat itu termasuk yang terkenal, dan sering dikutip di banyak ucapan atau tulisan. Dalam hal itu, Soe Hok Gie termasuk pemilik takdir yang baik, karena—meski dilahirkan—setidaknya dia mati muda.

Sejujurnya, saya menyepakati kenyataan itu. Bahwa takdir terbaik adalah tidak dilahirkan. Tetapi, kita tahu, itu hanya angan-angan, karena faktanya kini saya sudah dilahirkan, bahkan tumbuh dewasa. Kalau boleh meminta, saya ingin seperti Soe Hok Gie. “Dilahirkan, tapi mati muda.”

Melahirkan adalah pilihan, tapi dilahirkan adalah takdir. Berapa banyakkah orang berakal yang memahami kenyataan penting itu? Sekali lagi, melahirkan adalah pilihan, tapi dilahirkan adalah takdir!

Seorang wanita, atau sepasang suami istri, memiliki pilihan bebas. Memilih punya anak, memilih tidak punya anak, memilih punya sedikit anak, atau memilih punya banyak anak. Itu kehendak dan pilihan yang mereka miliki. Bahkan, suatu teknik tertentu dapat memungkinkan mereka untuk memilih punya anak perempuan atau anak laki-laki.

Jika mereka memilih untuk punya anak, mereka juga bisa memilih di mana akan melahirkan si anak, bagaimana si anak dilahirkan, akan diberi nama siapa, hingga memilih bagaimana mereka akan mendidik si anak. Semuanya adalah pilihan.

Tapi dilahirkan...? Itu takdir, bukan pilihan.

Seorang anak tidak bisa memilih dilahirkan oleh pasangan mana, tidak bisa memilih lahir di mana, bahkan tidak bisa memilih nama yang akan digunakannya. Semuanya sudah menjadi pilihan si orang tua, dan si anak hanya menerima. Mau tidak mau.

Beruntunglah seorang anak, jika ia kebetulan dilahirkan pasangan orang tua yang baik, yang dapat membesarkan dan mendidik secara baik, yang dapat menghidupi secara layak, hingga si anak dewasa, hingga ia sangat bersyukur karena telah menjalani kehidupan yang begitu baik.

Sebaliknya, sungguh sial seorang anak, jika ia kebetulan dilahirkan pasangan orang tua yang buruk, yang membesarkan dan mendidik secara buruk, yang tidak dapat menghidupi secara layak, hingga si anak dewasa, hingga ia merasa kehidupannya adalah jalan panjang penuh luka dan kutukan.

Melahirkan adalah pilihan, tapi dilahirkan adalah takdir. Dalam hal ini, kita melihat bahwa nasib seorang anak—seorang manusia yang dilahirkan—benar-benar sangat gambling, karena si anak tidak pernah tahu akan lahir dari orang tua mana, dan akan menjalani kehidupan seperti apa. Itu, dalam pandangan saya, adalah bentuk judi paling mengerikan dalam kehidupan manusia.

Karena, faktanya, tidak semua orang tua pasti baik. Akuilah fakta itu, dan berhentilah menipu diri sendiri. Di mana-mana, kita membaca berita orang tua yang mengeksploitasi anaknya, ayah yang memperkosa putrinya, ibu yang mengubur hidup-hidup anaknya, orang tua yang menelantarkan anak-anak mereka, dan setumpuk kejahatan lain yang semuanya dilakukan orang tua kepada anak.

Itu contoh-contoh kejahatan yang jelas jahat—dari pembunuhan, perkosaan, hingga penganiayaan. Padahal, perilaku orang tua terhadap anak, yang juga bisa disebut kejahatan, tidak sebatas itu. Ada setumpuk perilaku lain yang dilakukan orang tua kepada anak, yang sebenarnya kejahatan, tapi dianggap hal biasa, atau tidak disadari sebagai kejahatan. Dari memukul atau melakukan tindak kekerasan lain, sampai mempermalukan si anak di depan orang-orang lain.

Hubungan atau relasi antara orang tua dan anak memang dibangun dari fondasi yang kacau—untuk tidak menyebut keliru. Kita pasti sering mendengar ajaran yang menyatakan, “Anak-anak wajib menghormati orang tua.” Kita sepakat, itu ajaran yang baik. Yang masih jadi masalah, kenapa tidak ada ajaran serupa yang ditujukan pada orang tua? Kenapa anak-anak dituntut menghormati orang tua, tapi orang tua tidak dituntut menghormati anak?

Jika dipikirkan secara mendalam, ajaran itu lahir karena mengasumsikan bahwa semua orang tua pasti baik. Padahal, kenyataannya, tidak semua orang tua pasti baik! Orang tua, sebagaimana manusia umumnya, ada yang baik juga ada yang tidak. Mengasumsikan semua orang tua pasti baik jelas keliru, sama keliru mengasumsikan semua orang tua pasti buruk!

Jadi, ajaran tentang “menghormati” itu jelas timpang, sekaligus tidak adil. Anak dituntut menghormati orang tua, tapi orang tua tidak dituntut hal yang sama. Akibatnya, orang tua merasa bebas bahkan sewenang-wenang memperlakukan anaknya. Di sisi lain, anak yang mencoba melawan akan dicap sebagai anak durhaka. Oh, well, kenapa selama ini kita tidak pernah mendengar istilah “orang tua durhaka”?

Lebih jauh, orang tua kerap menggunakan dalih melahirkan dan membesarkan, sebagai alasan logis kenapa anak harus tunduk kepada orang tua. “Kami yang melahirkan dan membesarkanmu, jadi kau harus menuruti kami!”

Dalih itu, sebenarnya, kacau—untuk tidak menyebut keliru. Melahirkan adalah soal pilihan, sementara dilahirkan adalah takdir!

Jika orang tua menggunakan dalih “telah melahirkan” si anak, memangnya siapa yang minta dilahirkan? Dengan mengatakan pada si anak bahwa orang tua telah melahirkan dan membesarkan, itu sama saja menjatuhkan tanggung jawab kelahiran pada si anak. Padahal yang menjadikan si anak lahir adalah pilihan orang tua.

Sebelum si anak lahir, orang tua memiliki pilihan. Untuk melahirkan (punya anak) atau tidak. Jika orang tua memilih untuk melahirkan dan punya anak, maka tanggung jawab ada pada orang tua, bukan pada si anak. Dengan kata lain, orang tua tidak bisa menggunakan dalih “telah melahirkan dan membesarkan”, karena dalih itu sama saja mengatakan bahwa si anak bertanggung jawab atas kelahirannya. Padahal, kelahiran anak adalah kehendak dan pilihan orang tua.

Kita pasti sering mendengar ada pasangan yang sedih, bingung, dan sampai berikhtiar/berobat ke sana kemari, karena belum memiliki anak, padahal telah menikah bertahun-tahun. Kenyataan itu dengan jelas membuktikan bahwa orang tualah yang memilih untuk punya anak.

Jika orang tua memang tidak menginginkan anak, kondisi tidak punya anak justru akan mereka syukuri. Tapi tidak, mereka malah bingung, stres, bahkan frustrasi, karena belum juga punya anak. Jelas, mereka ingin punya anak!

Gebleknya, begitu si anak lahir dan tumbuh besar, mereka berpikir dan bersikap seolah si anak yang minta dilahirkan! Sejak kecil si anak dididik, “Karena orang tua telah melahirkan dan membesarkanmu, maka kau harus patuh, tunduk, hormat, dan mengikuti semua perintah orang tuamu.” Padahal... siapa yang meminta dilahirkan?

Tentu saja si anak harus—bahkan wajib—menghormati orang tua, sebagaimana orang tua juga harus menghormati anak. Tapi orang tua tidak bisa memaksakan dalih “telah melahirkan”, karena kenyataannya si anak tidak minta dilahirkan, karena melahirkan anak atau tidak adalah soal pilihan! Wong memilih sendiri untuk melahirkan anak, tapi menimpakan tanggung jawab pada si anak. Tanggung jawab ada pada pihak yang memilih, bukan pada takdir yang dipilih.

Yang lebih berbahaya dari itu, adalah cara berpikir kebanyakan orang tua terhadap anak-anaknya. Kita pasti sering mendengar istilah “anak adalah investasi”. Sekilas, istilah itu mungkin terdengar benar. Tetapi, sebenarnya salah bahkan berbahaya!

Ketika orang tua menganggap anak sebagai investasi, saat itu pula mereka tidak lagi menilai si anak sebagai manusia utuh, melainkan hanya sebagai benda yang dapat mereka kendalikan sesuai keinginan. Dari situlah kemudian munculnya pemaksaan orang tua agar si anak belajar di sekolah mana, kuliah di perguruan tinggi apa, sampai harus bekerja di bidang apa. Anak tidak memiliki pilihan atau kehendak bebas sebagai manusia, karena posisinya hanya menjadi “investasi” orang tua. Karena hanya sebagai investasi, maka anak harus bisa menghasilkan “keuntungan” bagi orang tua. Dari keuntungan materi sampai keuntungan dalam bentuk prestise.

Dan, omong-omong, dari situ pulalah kemudian lahir pepatah terkenal tapi ngawur berbunyi, “Banyak anak banyak rezeki.”

Kalau kau punya anak, dan menganggap anak-anakmu sebagai investasi, tentu saja pepatah itu benar. Banyak anak banyak rezeki. Karena semakin banyak anakmu, semakin banyak pula investasimu. Semakin banyak investasimu, semakin besar pula potensi keuntungan yang kelak kaudapatkan.

Tetapi... serendah itukah manusia menjalani kehidupan? Senista itukah orang tua memandang anak-anaknya? Hanya sekadar sebagai investasi? Itu jelas kenyataan yang amat pahit sekaligus mengerikan, khususnya bagi anak-anak, karena ternyata mereka tidak dinilai sebagai manusia oleh orang tua mereka sendiri, melainkan hanya sebagai investasi.

Jika benar begitu kenyataannya, maka pantas kalau ada orang tua yang merasa berhak memaksa anaknya kuliah di bidang bisnis, padahal si anak ingin menjadi pelukis. Karena orang tua tidak memandang anaknya sebagai manusia yang memiliki pilihan dan kehendak untuk menentukan kehidupan sendiri, melainkan sebagai investasi yang harus mendatangkan keuntungan. Orang tua merasa berhak atas nasib si anak, dan orang tua pun memastikan si anak menghasilkan untung, meski untuk itu si anak mungkin menjalani kehidupan dengan perasaan terkekang dan tertekan.

Jika benar begitu, alangkah malang nasib anak-anak, dan alangkah nista para orang tua! Orang tua ingin dihormati sebagai manusia, tapi mereka memperlakukan anak-anak hanya sekadar sebagai benda. Dan kelak, sebagaimana bentuk warisan kebodohan lainnya, anak-anak itu pun akan tumbuh menjadi orang tua, untuk kemudian sama memperlakukan anak-anaknya seperti dulu mereka diperlakukan. Tidak menganggap anak-anak sebagai manusia, tapi sebagai benda.

Karena buah jatuh tak pernah jauh dari pohonnya.

Melahirkan adalah pilihan, tapi dilahirkan adalah takdir. Dan takdir terbaik, sebagaimana kata Soe Hok Gie, adalah tidak dilahirkan. Sepertinya memang benar, jika dilahirkan hanya untuk menjadi investasi bersifat kebendaan bagi orang tua yang telah melahirkan.

Tapi sayang seribu sayang, anak-anak yang telanjur dilahirkan tak pernah bisa kembali, dan mau tak mau harus menerima kenyataan.

 
;