Senin, 25 September 2017

Rezeki Pernikahan

Pernikahan terbaik adalah pernikahan dua orang yang sama-sama menyadari
bahwa pernikahan tidak hanya berisi omong kosong kebahagiaan.
@noffret


Niat menikah adalah niat yang baik, dan menikah adalah melakukan perbuatan yang baik. Kita semua sepakat dengan hal itu. Jika ada yang mengatakan bahwa menikah adalah perbuatan buruk, saya akan menjadi orang pertama yang akan melawannya. Karena saya pun sepakat, dan meyakini, bahwa menikah adalah hal baik. Jika siapa pun memilih menikah, kita tidak bisa melarang apalagi menyalahkan.

Terkait pernikahan, sebenarnya, tidak ada yang buruk, selama orang melakukan dengan niat baik, dengan kesadaran, serta dengan tanggung jawab.

Ada yang menikah dengan sederhana, itu baik. Ada pula yang menikah dengan mewah, juga tidak masalah. Karena masing-masing orang punya selera, pilihan, dan kemampuan berbeda. Ada yang menikah setelah pacaran beberapa tahun, silakan. Ada pula yang menikah dengan orang yang baru dikenal, juga silakan. Ada yang menikah dengan niat agar memiliki keturunan, itu bagus. Ada pula yang menikah namun tidak ingin punya anak, juga tidak apa-apa.

Intinya, menikah adalah hal baik. Bagaimana kau melakukannya, dan bagaimana kau menjalaninya, itu terserah masing-masing, selama pilihan yang diambil dilakukan dengan kesadaran dan tanggung jawab. Menikah adalah soal pilihan, dan siapa pun punya tanggung jawab atas pilihan yang diambil.

Sebagai hal baik, menikah juga akan meluaskan rezeki. Saya ulangi, “meluaskan rezeki”, bukan “melancarkan rezeki”.

Selama ini, ada orang-orang yang suka ngoceh bahwa menikah akan melancarkan rezeki, dan mereka menggunakan iming-iming itu untuk memprovokasi orang-orang lain—yang masih lajang—untuk segera menikah. Ironisnya, yang suka ngoceh seperti itu justru rezekinya tidak lancar, hidupnya kembang kempis, utangnya di mana-mana, saban hari pusing mikir hidup. Melancarkan rezeki apaan?

Jadi, menikah tidak melancarkan rezeki. Yang benar, meluaskan rezeki.

Apa perbedaan “melancarkan rezeki” dan “meluaskan rezeki”? Ketika kita bicara rezeki, setiap kali pula persepsi kita mengarah kepada uang, atau hal-hal yang bersifat kebendaan. Rezeki lancar, artinya uang lancar, pekerjaan lancar, transaksi di rekening juga lancar. Karenanya, ketika kita ngomong “lancar rezeki”, saat itu pula kita membayangkan uang dan urusan keuangan. Padahal, rezeki tidak sebatas dan sesempit itu!

Dalam pernikahan, memiliki pasangan yang baik itu rezeki, bahkan rezeki yang sangat besar. Itu sesuatu yang tidak dimiliki lajang atau orang yang belum menikah. Melalui pernikahan, lingkar persaudaraan kita juga bertambah, karena famili dari pihak pasangan juga menjadi famili kita. Itu pun rezeki, yang lagi-lagi tidak dimiliki orang yang belum menikah. Contoh ini bisa diperluas ke bagian lain, seluas mungkin, yang semuanya bisa menjadi rezeki bagi orang-orang yang telah menikah.

Kemudian, ada pasangan menikah yang punya anak atau beberapa anak. Itu pun jelas rezeki. Memiliki anak yang berasal dari darah daging sendiri, itu rezeki yang teramat besar. Para lajang atau yang belum menikah tidak bisa memiliki karunia atau rezeki semacam itu. Karenanya, anak—sebagaimana pasangan—adalah rezeki yang hanya diperoleh orang-orang yang menikah. Sekali lagi, contoh ini bisa diperluas, yang merupakan bagian rezeki dalam pernikahan.

Setelah menikah, tanggung jawab seseorang biasanya semakin besar. Kesadaran bahwa kita memiliki tanggung jawab, itu pun rezeki, karena perasaan dan kesadaran semacam itu belum tentu dimiliki para lajang, apalagi yang hidupnya mbah-mbuh. Karena kesadaran itu pula, orang yang menikah biasanya berusaha menjalani hidup lebih baik. Sekali lagi, itu pun rezeki.

Di lingkungan masyarakat, orang yang menikah dipandang lebih terhormat daripada orang yang tidak/belum menikah. Untuk kesekian kali, itu pun rezeki!

Jadi, menikah memang meluaskan rezeki, karena menikah memungkinkan orang untuk mendapatkan hal-hal yang tidak bisa didapatkan orang-orang yang tidak/belum menikah. Itulah esensi “rezeki” dalam pernikahan!

Keberadaan pasangan, anak-anak, perasaan memiliki tanggung jawab, upaya menjalani kehidupan lebih baik dan teratur, lingkaran persaudaraan yang makin luas, kehidupan yang terhormat, semua itu rezeki yang diterima orang-orang yang menikah. Karenanya, pengertian rezeki dalam pernikahan, sebenarnya, tidak sesempit yang mungkin dipikirkan banyak orang. Karenanya pula, rezeki yang dimaksud dalam pernikahan bukan sebatas uang!

Jadi, sekali lagi, pernikahan akan “meluaskan rezeki”—sebagaimana yang diuraikan di atas—dan itu masuk akal. Siapa pun akan setuju, dan tidak bisa membantah.

Sebaliknya, jika pernikahan disebut akan “melancarkan rezeki”—dalam hal ini rezeki berbentuk uang—justru tidak masuk akal, dan sangat mudah dibantah! Wong banyak pasangan terjerat kemiskinan, banyak keluarga berkekurangan, rezeki lancar apaan? Sebagian orang bahkan sampai ngutang demi bisa menikah! Yang kayak gitu masih ngotot mengatakan menikah akan melancarkan rezeki?

Kausalitas antara pernikahan dan rezeki dalam bentuk uang hanya bersifat kasuistis. Kasarnya, kalau kau menikah dengan konglomerat, kau memang akan kaya setelah menikah. Tetapi, sekali lagi, itu kasuistis, dan tidak bisa disamaratakan pada setiap orang.

Karenanya, terkait pernikahan, rezeki dalam bentuk uang tetap kembali pada individu masing-masing. Faktanya ada pasangan yang berkelimpahan, ada yang berkecukupan, ada pula yang berkekurangan. Itu fakta yang sangat jelas, gamblang, dan bisa disaksikan, serta bisa dibuktikan.

Well, masih ingat Stefani yang saya ceritakan di sini? Dulu, ketika Stefani menikah dengan Zahir, waktu itu Zahir sedang merintis usaha, dan kehidupannya belum mantap. Sekitar satu tahun setelah menikah, kehidupan mereka—Zahir dan Stefani—bisa dibilang berkelimpahan. Usaha yang dijalankan Zahir berjalan lancar, bahkan sukses. Apakah kesuksesan bisnis Zahir karena pernikahan? Mungkin ya, tapi kisah ini belum selesai.

Setelah mencapai kesuksesan yang memungkinkan mereka menikmati hidup berkelimpahan, bisnis Zahir mulai mengalami masalah. Kredit macet di mana-mana, dan perlahan namun pasti kehidupan mengalami masa surut. Ada masa-masa ketika Zahir pergi seharian, mengurusi pekerjaan, menemui banyak orang, namun pulang ke rumah tanpa membawa uang. 

Zahir menceritakan semua itu secara blak-blakan, ketika saya datang ke rumahnya, dan bercakap-cakap dengan dia serta istrinya. (Saya telah mengenal akrab mereka berdua, sebelum mereka menjadi suami istri.)

Saya bertanya kepadanya, bagaimana dia bisa menjalani masa-masa pahit itu dengan tegar, dan Zahir menjawab, “Sebenarnya, aku tidak setegar yang mungkin kamu bayangkan. Di masa-masa itu, kadang aku malu pada diri sendiri, dan tak ingin pulang ke rumah, karena hanya akan mengecewakan istriku. Tapi aku tentu harus pulang. Dan aku bersyukur, karena memiliki istri dengan pengertian seluas samudera, yang tetap setia dan percaya kepadaku, meski aku sedang jatuh. Keberadaannya, dan senyuman anakku, adalah obat terbaik saat aku menghadapi masa-masa sulit.”

Itulah rezeki dalam pernikahan!

Keberadaan pasangan yang baik, yang tetap setia dan percaya kepadamu, meski kau sedang jatuh, adalah rezeki yang tidak dimiliki lajang atau orang yang belum menikah! Kata-kata lembut pasangan, dan senyuman serta pelukan anak, yang menjadi obat terbaik di kala menghadapi masa-masa sulit, itulah rezeki dalam pernikahan—sesuatu yang hanya dimiliki orang-orang yang menikah!

Lalu saya bertanya kepada Stefani, bagaimana dia menjalani masa-masa sulit tersebut, dan Stefani menjawab terus terang, “Kadang-kadang aku jengkel, sebenarnya. Bagaimana pun, kami tidak pernah membayangkan akan mengalami masa-masa sulit semacam itu. Kadang, pas kami kehabisan uang, sementara kebutuhan terus berdatangan, rasanya ingin marah. Juga bingung. Kadang-kadang kami sampai bertengkar, waktu itu.” Dia tersenyum kepada suaminya, waktu mengatakan kalimat tersebut.

“Yang membuatku terus tegar dan bertahan,” lanjut Stefani, “adalah saat malam hari, dan mendapati suami telah tertidur karena mungkin kelelahan, setelah bekerja seharian. Dia sering tidur lebih awal. Jadi, waktu aku masuk kamar, hendak tidur, biasanya dia sudah lelap. Saat itu, biasanya, tanpa sengaja aku memandanginya, dan berpikir, ‘Lelaki ini semula bukan siapa-siapaku, bahkan bukan keluargaku. Tapi aku mempercayakan hidupku kepadanya, dan dia menjaga kepercayaanku dengan tanggung jawab. Dia telah berusaha sebaik yang dia bisa—kenyataannya kami juga pernah menikmati hidup berkelimpahan. Jika sekarang kami jatuh, aku tidak punya alasan menyalahkan, toh dia masih berusaha membangun kembali hidup kami.’ Bayangan semacam itulah, yang membuatku terus bertahan, dan diam-diam mendoakannya, mendukungnya, hingga kami bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Bagaimana pun, aku telah menikah dengan lelaki terbaik yang bisa kumiliki, yang mencintai dan menyayangiku sepenuhnya. Mengingat itu saja, semua kemarahanku pupus.”

Sekali lagi, itulah rezeki dalam pernikahan. Kesadaran bahwa kau memiliki pasangan terbaik yang bisa kaumiliki, yang mendukungmu, yang diam-diam mendoakan kebaikan untukmu, yang mencintai dan menyayangi, itulah rezeki dalam pernikahan—sesuatu yang tidak dimiliki orang-orang yang tidak/belum menikah!

Karenanya, pernikahan akan meluaskan rezeki—bukan melancarkan rezeki!

Dalam pernikahan, ada banyak rezeki yang bisa diperoleh, tapi tidak ada jaminan kau akan kaya dan banyak uang hanya karena menikah! Karena rezeki, kenyataannya, memang tidak sesempit yang dipikirkan kebanyakan orang.

Jadi, marilah kita pahami kenyataan penting ini. Bahwa rezeki sebenarnya tidak sebatas uang atau kekayaan, atau hal-hal sempit yang bersifat kebendaan. Rezeki memiliki makna luas, selama itu memiliki nilai baik atau positif. Kesehatan, kehidupan yang baik, keberadaan sahabat atau pasangan, teman yang bertambah, pengetahuan baru, rukun dengan keluarga dan tetangga, semuanya itu rezeki. Daftar ini bisa ditambah dan ditambah lagi.

Karenanya, berhentilah ngibul dengan mengatakan bahwa menikah akan “melancarkan rezeki”, karena kenyataannya tidak begitu! Kalau kau ngoceh tentang rezeki terkait pernikahan, jelaskan pula bahwa yang dimaksud rezeki dalam pernikahan tidak sebatas uang. Penjelasan itu penting, agar orang yang menerima ocehanmu tidak salah paham, dan mengira bisa kaya mendadak hanya karena menikah!

Akhir kata, menikah adalah hal baik, dan pilihan yang baik. Jangan rusak hal baik itu dengan doktrin-doktrin yang merusak, yang hanya akan menjerumuskan orang-orang yang tidak tahu.

Dan yang tak kalah penting, sebelum kau mencoba merayu atau memprovokasi orang lain agar segera menikah dengan segala iming-iming, cobalah tanyakan pada dirimu sendiri, “Mengapa aku merasa perlu merayu dan menyuruh-nyuruh orang lain agar segera menikah?” Tanyakan pertanyaan itu pada diri sendiri, dan jawablah secara jujur. Sekali lagi, jawablah secara jujur!

Begitu kau menerima dan mengakui jawabanmu yang jujur, kau akan menyadari bahwa tugasmu yang terpenting bukan pernikahan orang lain, tapi pernikahanmu sendiri.

Tipuan Paling Tolol

Jika orang berusaha membuktikan sesuatu yang seharusnya
tidak perlu dibuktikan, maka artinya tidak begitu.
@noffret


“Menikah akan membuatmu bahagia.”

Kalau memang begitu kenyataannya, kenapa kau berusaha meyakinkan kami? Kalau memang menikah akan membuat bahagia—seperti yang kaukatakan—mestinya kami akan bisa melihatnya sendiri, tanpa harus diberitahu lagi. Karena di mana-mana ada orang menikah, di sekeliling kami banyak orang menikah, bahkan teman dan tetangga kami menikah.

Jadi, kalau memang menikah akan membuat bahagia, kau—atau siapa pun—tidak perlu repot-repot meyakinkan kami, karena kami pasti akan bisa melihatnya sendiri.

“Menikah akan melancarkan rezeki.”

Sekali lagi, kalau memang begitu kenyataannya, kenapa kau mati-matian berusaha meyakinkan? Kalau memang menikah akan melancarkan rezeki—sebagaimana yang kaunyatakan—mestinya kami akan bisa melihatnya sendiri, tanpa perlu kauyakinkan. Karena di mana-mana ada orang menikah, di sekeliling kami banyak orang menikah, bahkan teman dan tetangga kami menikah.

Jadi, kalau memang menikah akan melancarkan rezeki, kau—atau siapa pun—tidak perlu repot-repot meyakinkan kami, karena kami pasti akan bisa melihatnya sendiri.

Fakta bahwa kau—dan orang-orang lain—berusaha mati-matian meyakinkan kami bahwa menikah akan membuat bahagia, melancarkan rezeki, dan taik kucing lainnya, justru menunjukkan hal sebaliknya. Karena jika memang begitu kenyataannya—bahwa kau bahagia, lancar rezeki, dan taik kucing lainnya—kau tidak akan berusaha meyakinkan kami, karena kami akan bisa melihat sendiri.

Kau—dan orang-orang sepertimu—tahu, bahwa menikah tidak sebahagia yang kalian bayangkan. Karena itu, kau dan para pecundang sepertimu berusaha mati-matian meyakinkan kami, bahwa menikah akan membuat bahagia.

Fakta kalian berusaha meyakinkan kami bahwa menikah akan membuat bahagia, justru membuktikan bahwa sebenarnya kalian tidak bahagia! Karena kebahagiaan tak pernah butuh pembuktian, sebagaimana rezeki dan kekayaan tidak butuh pameran!

Jadi, kalau memang perkawinanmu menyedihkan, dan diam-diam kau menyesal, sebaiknya tutup mulut sajalah. Karena apa pun yang kaukatakan tentang hal-hal indah tentang perkawinan, hanya membuat kami semakin muak, dan makin menunjukkan kalau kau cuma bangsat penipu yang berusaha menjual tipuan tolol.

Hin

Oooh, hin.

Selasa, 19 September 2017

Kidung Luka

Pertanyaan paling menggelisahkan di dunia: Apa sebenarnya
yang kita percaya? Cuma doktrinasi, atau benar-benar fakta?
@noffret


Sabra dan Shatila adalah nama dua kamp pengungsian Palestina, di wilayah Beirut Barat. Dua kamp itu terletak berhimpitan, sehingga biasa disebut Sabra-Shatila. Selain Sabra-Shatila, ada pula kamp pengungsi bernama Mar Elias, Bour el-Brajneh, dan beberapa yang lain. Ketika perang antara Israel dan Palestina terjadi, kamp-kamp itu menjadi tempat persembunyian para wanita dan anak-anak Palestina dari kekejaman perang. Bisa dibilang, di kamp-kamp itu tidak ada pria, apalagi yang masih muda, karena semuanya berperang melawan Israel.

Kamp-kamp pengungsian di Palestina—termasuk Sabra-Shatila—tidak terlalu luas, namun dihuni ribuan orang. Mereka tinggal di kamar-kamar sempit dan kumuh, dengan fasilitas kesehatan serta sanitasi yang sangat tidak layak. Di tempat itulah, para wanita—termasuk nenek-nenek, ibu-ibu rumah tangga, anak-anak, hingga bayi-bayi—menjalani kehidupan sambil berharap perang segera usai, agar para pria bisa kembali, agar hidup kembali damai.

Waktu itu pertengahan 1982, dan pasukan Israel menyerang wilayah Beirut dengan brutal, bahkan membabi-buta. Dunia internasional mengecam penyerangan keji itu, dan hasilnya Prancis serta Italia mengirim pasukan. Para pejuang Palestina yang ada di wilayah Beirut dievakuasi menggunakan kapal-kapal laut, di bawah pengawalan Prancis dan Italia. Seiring dengan itu, PBB menurunkan sejumlah pasukan penjaga perdamaian.

Untuk sementara waktu, Israel menghentikan serangan mereka, dan untuk sementara waktu pula suasana Beirut terasa damai. Peristiwa itu terjadi pada awal September 1982.

Di Beirut, karena suasana yang mulai damai, orang-orang mulai keluar dari tempat perlindungan, dan mereka membersihkan puing-puing bekas perang dari jalanan. Harapan hidup kembali bersinar di mata mereka. Bahkan, sesuai permintaan PBB, wanita-wanita Palestina juga menyerahkan semua senjata api yang semula mereka simpan sebagai sarana berjaga-jaga kalau diserang.

Jadi, jalan-jalan di Beirut yang semula kotor, berantakan, dan penuh puing bekas peperangan, kini mulai bersih. Anak-anak kecil mulai bermain dan berlarian, dan para ibu menggendong bayi-bayi mereka dengan wajah lebih cerah. Hidup tampaknya akan lebih baik, atau setidaknya mereka berharap begitu.

Tapi harapan itu ternyata menjadi awal petaka mengerikan.

Setelah jalan-jalan di Beirut bersih dari tumpukan karung-karung berisi pasir, bersih dari beton dan batu-batu yang semula dipasang sebagai barikade, setelah keluarga-keluarga Palestina di kamp pengungsian tidak lagi memiliki senjata, setelah bayi-bayi dapat tertawa dicandai ibu mereka... petaka yang sangat mengerikan menyergap tiba-tiba.

Suatu malam, 14 September 1982, ledakan besar mengguncang Lebanon. Sebuah bom meledak, dan calon Presiden Lebanon, Bashir Gemayel, terbunuh. Terbunuhnya Bashir Gemayel seperti intro nyanyian luka.

Esok paginya, saat hari masih gelap, udara Lebanon dipenuhi raungan pesawat tempur Israel. Pesawat-pesawat itu menjatuhkan bom-bom yang kembali mengguncang bumi, meluluhlantakkan Beirut. Tanah bergetar seperti gempa, bangunan-bangunan hancur, pohon-pohon terbakar.

Setelah serangan bom mereda, bumi kembali bergetar. Kali ini karena kedatangan ratusan tank pasukan Israel yang berkonvoi memasuki Beirut, dan mengepung kamp pengungsian Sabra-Shatila. Tank-tank itu diikuti tentara infanteri Israel dan sekutu mereka, di antaranya orang-orang Lebanon bersenjata, yang memang dekat dengan kaum Yahudi.

Pada waktu itu, sebagaimana yang disebut tadi, kamp-kamp pengungsian di sana—termasuk Sabra-Shatila—hanya dihuni kaum wanita, termasuk ibu-ibu, nenek-nenek, juga anak-anak, serta bayi-bayi. Ketika mereka mendengar gemuruh suara tank yang mendekat, para wanita pun menarik anak-anak dan menggendong bayi-bayi mereka untuk segera masuk kembali ke tempat persembunyian, dan mengunci diri di dalamnya.

Pasukan Israel, bersama tank-tank mereka, mengepung rapat Sabra-Shatila. Sebegitu rapat kepungan itu, hingga bahkan seekor kucing tak bisa lewat.

Sementara itu, di luar Sabra-Shatila, wilayah Beirut sedang dihujani bom. Pesawat-pesawat Israel menjatuhkan bom yang menghancurkan apa pun yang ada di bawah, sementara tank-tank mereka meluluhlantakkan bangunan demi bangunan yang dilewati. Selama seharian kemudian, Beirut seperti menikmati pesta kembang api, namun dalam skala raksasa, dengan bangunan-bangunan yang hancur, dengan bumi yang retak dan terbelah, dengan mayat-mayat bergelimpangan, dengan cecerah darah di mana-mana.

Tidak jauh dari kamp Sabra-Shatila, berdiri Rumah Sakit Akka, yang menjadi tempat merawat orang-orang sakit dan terluka. Ketika pasukan Israel kehabisan tempat untuk dihancurkan, mereka mendekati rumah sakit itu, dan kembali menjatuhkan bom. Orang-orang di rumah sakit berlarian ke sana kemari, mencari tempat perlindungan, termasuk berlari menuju ke arah kamp-kamp pengungsi.

Seiring dengan itu, pasukan Israel yang ada di darat mulai menyerbu ke dalam Rumah Sakit Akka, dan menembaki para perawat, dokter, juga seluruh pasien yang masih tertinggal di sana. Wanita-wanita di tempat itu diperkosa, lalu dibunuh. Sementara orang-orang yang telah keluar dari rumah sakit diburu menggunakan tank, ditembaki dengan meriam.

Itu menjadi hari yang panjang di Lebanon, dan hari paling mengerikan di Beirut.

Malam harinya, suara bom dan dentum meriam mulai reda, namun rentetan tembakan senapan masih terdengar, bahkan sepanjang malam. Langit di atas kamp Sabra-Shatila terang benderang oleh peluru-peluru suar yang ditembakkan oleh tank dan helikopter Israel. Menjelang pagi, raungan pesawat tempur kembali terdengar, disusul suara ledakan keras di sana-sini. Sejak itu, rentetan tembakan tidak pernah berhenti.

Pagi menjelang siang, pasukan Israel bergerak memasuki rumah-rumah dan gang-gang yang tersebar di Beirut, sambil menembakkan senjata seperti orang-orang mabuk. Mereka melemparkan granat dan dinamit ke pintu-pintu dan jendela-jendela rumah yang ditinggali orang-orang. Seiring dengan itu, pasukan yang semula mengepung rapat Sabra-Shatila mulai mendekati tempat persembunyian orang-orang Palestina.

Dan tragedi mengerikan itu pun dimulai.

Di kamp pengungsian, di Sabra-Shatila, pasukan Yahudi Israel dengan buas membunuh dan menyiksa orang-orang, memperkosa para wanita, meremukkan tulang-tulang bayi, membakar anak-anak, dan membunuh... membunuh... membunuh....

Sejarah mencatat, pembantaian di Sabra-Shatila menjadi genosida paling berdarah sepanjang peradaban manusia modern. Hanya dalam waktu tiga hari, sebanyak 3.297 orang Palestina—mayoritas para wanita dan anak kecil, hingga bayi-bayi—menemui ajal dengan cara mengerikan.

....
....

Sebagai manusia beradab, kita tentu bertanya-tanya, bagaimana manusia bisa melakukan kekejian semacam itu? Bagaimana manusia bisa membunuh dan menyiksa dan memperkosa orang-orang yang tak melakukan kesalahan apa pun pada mereka? Lebih spesifik, bagaimana bisa orang-orang Israel melakukan kebiadaban, kekejaman, dan kekejian tak berperikemanusiaan kepada orang-orang Palestina?

Untuk mendapat jawaban atas pertanyaan itu, kita bisa bertanya kepada Ilan Pappé, seorang Yahudi yang dijuluki “Orang Israel yang paling dibenci di Israel”.

Ilan Pappé adalah sejarawan Yahudi, yang memilih mendengarkan hati nurani daripada mendengarkan doktrin-doktrin Yahudi. Karena hati nurani pula, dia tidak takut membongkar dan mengobrak-abrik ketololan doktrin serta mitos-mitos yang dipuja kaumnya sendiri.

Ketika ditanya mengapa orang-orang Israel bisa melakukan kekejaman dan kekejian luar biasa terhadap orang-orang Palestina, Ilan Pappé menyatakan, “Ini adalah buah dari proses panjang pengajaran paham, indoktrinasi, yang dimulai sejak usia kanak-kanak—semua anak Yahudi di Israel dididik dengan cara ini. Anda tidak dapat menumbangkan sikap yang ditanamkan di sana dengan mesin indoktrinasi yang kuat, yaitu menciptakan sebuah persepsi rasis tentang orang lain, yang digambarkan sebagai primitif, hampir tidak pernah ada, dan penuh kebencian. Anak-anak Yahudi diberi penjelasan sejak kecil, bahwa orang-orang di luar kaum mereka (Palestina) adalah primitif, Islam, anti-Semit, bukan sebagai orang-orang yang telah mereka rampas tanahnya.”

Jadi, kita tahu bahwa Yahudi merampas tanah milik Palestina, sehingga orang-orang Palestina melawan perampasan tersebut, dan itulah asal mula perang abadi antara Israel dan Palestina. Tapi orang-orang Yahudi tidak tahu fakta itu, karena sejak kecil mereka telah dibutakan oleh doktrinasi, bahwa mereka (orang-orang Yahudi) telah ditakdirkan untuk hidup di tanah yang dijanjikan Tuhan. Bukan mereka yang merampas, kata Yahudi, tapi mereka hanya memenuhi keinginan Tuhan. Kalau orang-orang Palestina tidak terima kenyataan itu, persetan dengan mereka!

Doktrinasi itu tertanam kuat dalam benak setiap anak Yahudi, hingga kemudian mereka tumbuh dewasa. Ayat-ayat Talmud menjadi satu-satunya “pedoman moral” bagi mereka. Yang paling utama adalah doktrinasi bahwa hanya bangsa Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang lain (di luar mereka) adalah hewan. Para orang tua Yahudi telah menanamkan doktrin itu pada anak-anak mereka.

Dan jika orang tua di rumah, guru-guru di sekolah, serta orang-orang dewasa di sekitar mereka mengatakan hal yang sama, bagaimana mungkin anak-anak itu akan punya keberanian untuk berpikir lain...?

Tidak ada bayi yang dilahirkan untuk menjadi pembenci, pembunuh, pemerkosa, atau pun menjadi manusia rasis. Orang-orang dewasalah yang membentuk mereka hingga seperti itu. Anak-anak Yahudi bisa menjadi contoh paling gamblang. Betapa doktrinasi—apa pun isinya—bisa mengubah manusia menjadi apa pun yang dikehendaki, termasuk menjadi pembunuh, pemerkosa, dan iblis keji.

Ary Syerabi, seorang mantan perwira dari Satuan Anti Teror Israel, pernah penasaran memikirkan apa yang sekiranya dipikirkan anak-anak Yahudi terhadap anak-anak sebaya mereka di Palestina. Ketika bergabung dengan London Institute for Economic Studies, dia melakukan survei terhadap 84 anak-anak Israel usia sekolah dasar, untuk menjawab rasa penasarannya.

Waktu itu, Ary Syerabi menemui anak-anak Yahudi, dan memberikan selembar kertas serta pensil, lalu mengatakan pada mereka, “Tulislah surat buat anak-anak Palestina. Nanti surat itu akan kami sampaikan pada mereka.” (Tentu saja Ary Syerabi tidak bermaksud mengirimkan surat-surat mereka.)

Anak-anak kecil Yahudi itu pun menulis surat untuk anak-anak sebaya mereka di Palestina. Mereka benar-benar percaya surat yang mereka tulis akan dikirimkan buat anak-anak Palestina. Dan bisakah kita membayangkan isinya? Anak-anak itu tidak menulis dengan pikiran polos seperti umumnya anak-anak, melainkan dengan prasangka dan kebencian, padahal mereka sama sekali tidak mengenal anak-anak Palestina yang akan mereka kirimi surat.

Salah satu anak perempuan Yahudi, berusia 8 tahun, menulis suratnya dengan kalimat ini, “Sharon (maksudnya Ariel Sharon, Perdana Menteri Israel) akan membunuh kalian dan semua penduduk kampung… dan membakar jari-jari kalian dengan api. Keluarlah dari dekat rumah kami, hei monyet betina. Kenapa kalian tidak kembali ke (tempat) kalian datang? Kenapa kalian mau mencuri tanah dan rumah kami? Saya mempersembahkan untukmu gambar (ini) supaya kamu tahu apa yang akan dilakukan Sharon pada kalian… ha… ha… ha...” Anak perempuan Israel itu menggambar sosok Ariel Sharon, dengan tangan menenteng kepala anak perempuan Palestina yang meneteskan darah.

Kita lihat...? Bahkan seorang anak perempuan berusia 8 tahun telah mampu berpikir keji seperti itu. Apa yang mampu mengubah seorang anak tak berdosa hingga memiliki pikiran yang sedemikian keji? Doktrinasi!

Sekali lagi, orang-orang Yahudi Israel tidak menyadari bahwa merekalah yang telah merampas tanah milik orang-orang Palestina. Sebaliknya, mereka meyakini orang-orang Palestina menempati tanah milik bangsa Yahudi, dan kini mereka berusaha mengusir orang-orang Palestina dari sana.

Dunia—dan kita semua—menyaksikan bahwa kenyataan yang terjadi tidak seperti yang diyakini orang-orang Yahudi. Tetapi dunia—dan kita semua—juga tahu, kenyataan dan fakta paling jelas sekali pun, sering kali harus tunduk di bawah tirani doktrinasi.

Menjadi Burung Dodo

Aku khawatir, di suatu hari kelak, kita semua akan menjadi burung dodo.

Jumat, 15 September 2017

Wajah Buku di Indonesia

Terkait buku, seharusnya pemerintah memberikan subsidi.
Jika tidak bisa, semua pajak terkait buku dan
royalti penulis mestinya dihilangkan.
@noffret


Ini kisah usang dari dunia buku, khususnya di Indonesia, namun saya gatal untuk menuliskannya. Lagi pula, meski usang, persoalan ini masih patut dibicarakan, dipikirkan, dan—kalau bisa—dicarikan jalan keluarnya.

Well, di sebuah pameran buku berskala besar, tanpa sengaja saya masuk ke sebuah stand, dan mendapati tumpukan buku bajakan. Sebagian buku yang dibajak adalah karya penulis Indonesia, sebagian lagi buku terjemahan.

Semula, saya tidak tahu buku-buku yang saya dapati waktu itu bajakan. Di pameran buku, seperti biasa, saya masuk dari stand ke stand sebelahnya, dan terus begitu, hingga saya benar-benar “mengkhatamkan” semua stand yang ada di area pameran. Tujuannya, tentu saja, mencari buku-buku bagus. Dalam aktivitas itulah, tanpa sengaja saya masuk ke stand yang menjajakan buku-buku bajakan.

Seperti di stand-stand lain, stand berisi buku bajakan itu sekilas tampak biasa. Layaknya pemeran buku, stand itu menyediakan aneka buku—sebagian dipajang di rak, sebagian lain ditumpuk di meja dan di lantai. Stand itu sangat ramai, orang berjubel, hingga saya makin penasaran. Saya masuk, dan mendekati buku-buku di sana. Begitu menyentuhnya, saya segera sadar itu buku-buku bajakan.

Sekilas, buku-buku bajakan itu sangat mirip yang asli (buku resmi). Dengan sampul yang persis, dengan tingkat ketebalan nyaris persis, dilengkapi shrink (plastik tipis bening) yang membungkus buku dengan cantik. Orang awam—maksudnya bukan kutu buku—kemungkinan tidak menyadari itu buku bajakan.

Karena bajakan, harga buku-buku di stand itu pun lebih murah dibanding harga buku resmi—selisihnya sekitar 40 persen. Itu, tentu saja, menarik banyak orang untuk membeli. Hitungan mudahnya, kau menghabiskan 1 juta untuk membeli buku resmi, tapi hanya perlu mengeluarkan 600 ribu jika membeli versi bajakan. Ada selisih 400 ribu. Bayangkan kalau, misalnya, kau biasa menghabiskan 10 juta rupiah setiap kali ke pameran buku. Selisihnya sampai 4 juta!

Jika diperhatikan, kualitas cetakan buku-buku bajakan—setidaknya yang saya dapati di pameran—tidak sebaik buku resmi. Sampulnya memang persis, tapi kualitas warnanya tidak secemerlang buku asli. Lembar-lembar kertas yang digunakan juga berkualitas rendah, dengan permukaan kasar. Kemudian, cetakan tulisan di lembar-lembar buku juga sangat buruk, tidak serapi dan sejernih buku asli. Yeah, namanya juga buku bajakan!

Pameran buku tentu saja ditujukan untuk para pembaca dan pencinta buku. Fakta bahwa stand yang menyediakan buku-buku bajakan ramai dikerubuti orang, menunjukkan bahwa mereka—pembeli buku—tetap memilih yang murah, meski bajakan. Dalih yang mudah, “Yang penting bisa dibaca.”

Dalam hal ini, semata-mata hanya moral yang mampu menahan saya untuk tidak membeli buku bajakan di sana. Kalau mau menuruti nafsu, saya sudah membawa pikap ke sana!

Jujur saja, di stand buku bajakan itu ada banyak buku bagus, yang membuat saya gatal ingin membeli. Ditunjang harga yang murah—hampir setengah dari harga resmi—bagaimana saya tidak tergiur? Karenanya, sekali lagi, kalau semata menuruti nafsu, saya sudah memborong semua buku yang ada di sana, dan harus mengangkutnya dengan pikap untuk membawanya ke rumah.

Tetapi, bagaimana pun, saya penulis yang menghasilkan buku. Saya tidak mungkin mencederai kenyataan itu, karena... bagaimana kira-kira perasaan saya, jika buku karya sayalah yang dibajak dan diperjualbelikan?

Orang membeli buku bajakan, karena tidak menyadari yang saya sadari. Mereka hanya ingin membaca, dan persetan dengan penulisnya! Juga persetan dengan penerbitnya! Oh, ya, dan persetan dengan pemerintah!

Orang-orang awam, khususnya yang bukan penulis, tidak tahu bagaimana beratnya menjadi penulis, juga tidak tahu bagaimana rumitnya belitan yang terjadi pada buku-buku yang mereka beli, sehingga harganya lebih mahal dibanding buku bajakan. Untuk setiap satu buku yang terpajang di rak toko, ada banyak kepentingan di dalamnya, yang meliputi kepentingan penulis, kepentingan penerbit, kepentingan toko buku, kepentingan distributor, sampai kepentingan pemerintah. Aneka kepentingan itulah yang menjadikan harga buku di Indonesia tergolong mahal.

Saat kita membeli sebuah buku resmi (bukan bajakan), uang yang kita bayarkan sebenarnya dibagi untuk pihak-pihak tadi, dengan persentase berbeda-beda. Ironisnya, yang mendapat persentase paling kecil justru penulis, pihak yang paling memungkinkan buku itu bisa ada.

Dalam harga setiap buku, ada jatah sekian persen untuk penulis, sekian persen untuk penerbit, sekian persen untuk distributor, sekian persen untuk toko buku, dan—tentu saja—sekian persen untuk pemerintah. Iya, pemerintah yang itu!

Pihak yang paling banyak mendapatkan jatah persentase dari harga buku, biasanya, distributor dan toko buku. Setidaknya, rata-rata jatah persentase mereka lebih besar dibanding yang diperoleh penerbit dan penulis. Tetapi, dua pihak itu—distributor dan toko buku—masih kalah dari jatah yang diperoleh pemerintah.

Bayangkan, pemerintah menarik pajak untuk kertas (bahan baku buku), menarik pajak usaha (dari penerbit), menarik pajak penjualan (dari pembeli), dan menarik pajak royalti (dari penulis). Omong-omong, rata-rata royalti penulis adalah 10 persen dari harga buku. Tetapi pajak yang ditarik pemerintah dari royalti penulis mencapai 15 persen! Itu piye, kalau dipikir-pikir?

Saya ulangi, rata-rata royalti yang diperoleh penulis dari buku karyanya hanya 10 persen. Tapi pemerintah menarik pajak royalti dari penulis dengan besaran 15 persen. Dalam hal ini, pemerintah bahkan memberlakukan pajak progresif—semakin besar royaltimu, semakin besar pula pajakmu. Tere Liye, misalnya, harus membayar pajak sekitar 250 juta rupiah untuk setiap 1 miliar royalti yang didapatkannya. Pantas kalau dia ngamuk-ngamuk!

Jadi, latar belakang itulah yang menjadikan harga buku di Indonesia tergolong mahal, khususnya untuk ukuran daya beli masyarakat kita. Bagaimana pun, diakui atau tidak, masih banyak orang yang “eman-eman” mengeluarkan uang untuk membeli buku. Pertama karena mereka memang bukan pencinta buku, dan kedua karena harga buku relatif mahal. Faktor pertama mungkin bisa diatasi dengan edukasi, tapi faktor kedua membutuhkan kesadaran pemerintah untuk mendukung edukasi.

Sayangnya, dalam hal ini, pemerintah tampaknya tidak sadar, atau tidak peduli. Meski menyadari minat baca—dan minat membeli buku—orang Indonesia tergolong rendah sekali, pemerintah tidak peduli. Nyatanya mereka masih aktif memungut aneka pajak untuk setiap buku yang terbit. Kalau pemerintah memang peduli, dan menginginkan minat baca orang Indonesia meningkat, mestinya mereka ikut memikirkan kebijakan yang mendukung ke arah itu. Salah satu yang mudah dilakukan, tentu saja, memangkas aneka pajak buku!

Memang, buku adalah bagian dari komoditas, dan penerbit juga bukan yayasan amal. Bagaimana pun, buku adalah bagian dari industri, dan karena itu pemerintah memungut pajak sebagaimana pada bisnis lain. Tetapi, Indonesia belum menjadi negara maju yang masyarakatnya melek literasi dan menganggap buku sebagai kebutuhan. Mungkin, jika Indonesia sudah menjadi negara maju, dan buku telah menjadi kebutuhan primer, “aturan konvensional” terkait bisnis buku bisa diterapkan layaknya negara maju.

Saya pikir, PR terbesar negeri ini sesungguhnya bukan bagaimana menarik pajak sebanyak-banyaknya dari buku yang terbit, tapi bagaimana menarik orang sebanyak-banyaknya agar membeli dan membaca buku.

Kegiatan membaca buku (dan membeli buku) belum menjadi budaya banyak orang di Indonesia, tingkat minat baca sangat rendah, penjualan buku masih memprihatinkan, nasib penulis buku juga setali tiga uang. Jika dalam kondisi semacam itu pemerintah menutup mata, dan masih tega membelit buku dengan aneka pajak, maka harapan minat baca yang tinggi hanyalah mimpi. Masyarakat akan tetap lebih memikirkan besok makan apa, daripada besok membaca buku apa.

Riset UNESCO menyebutkan, minat baca Indonesia hanya di kisaran angka 0,001. Artinya, dari 1.000 orang hanya satu yang punya minat membaca secara serius. Sekali lagi, satu banding seribu! Sementara survei Most Literated Nation in The World menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari 61 negara, soal minat baca warganya. Dalam survei itu, peringkat Indonesia hanya lebih baik dari Botswana.

Melihat kondisi masyarakat Indonesia, dan rendahnya minat baca di negeri ini, mestinya pemerintah justru perlu turun tangan, ikut memikirkan bagaimana cara agar masyarakat mencintai buku, agar minat baca meningkat, agar melek literasi menjadi budaya. Idealnya, alih-alih menarik pajak, pemerintah memberi subsidi untuk buku, agar harga buku bisa ditekan serendah mungkin, agar masyarakat tidak “eman-eman” mengeluarkan uang untuk buku, agar penulis dan penerbit bisa terus produktif menghasilkan buku.

Namun, kalau memberi subsidi dianggap tidak mungkin, lakukan saja yang mungkin. Seperti menghilangkan pajak terkait buku.

Dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 158/PMK.010/2015 yang dikeluarkan pada pertengahan Agustus 2015, pemerintah membebaskan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10 persen untuk beberapa jasa hiburan. Di antaranya tontonan film, diskotik, tempat karaoke, tontonan pagelaran kesenian, tontonan kontes kecantikan, dan tontonan pagelaran busana.

Kalau pemerintah bersedia menghilangkan pajak untuk urusan hiburan—dari diskotik sampai pertunjukan fashion—kenapa pemerintah keberatan melakukan hal sama untuk buku dan literasi?

Diakui atau tidak, mahalnya harga buku di Indonesia tidak semata karena daya beli masyarakat yang rendah, tapi juga karena buku dibelit aneka pajak, dari hulu ke hilir. Dari bahan baku yang menjadi awal terbentuknya buku, sampai tetes terakhir buku berupa royalti penulis, semuanya dicekik pajak. Dengan aturan pajak seketat itu, harga buku menjadi mahal, sementara masyarakat makin enggan mengeluarkan uang untuk membeli buku. Jika yang terjadi terus menerus seperti itu, sampai kiamat pun minat baca orang Indonesia akan tetap rendah.

Terkait hal ini, ternyata yang mengeluhkan soal pajak bukan hanya penulis, tapi juga penerbit. Edi AH Iyubenu, pemilik Penerbit Diva Press, juga ngoceh panjang lebar menumpahkan kekesalannya terkait pajak, dan kalian bisa membacanya di sini: Tafsir Semena-mena Para Petugas Pajak terhadap Buku. Catatan tersebut penting dibaca, karena memberi sudut pandang lain mengenai dunia perpajakan Indonesia, khususnya terkait industri buku.

Mengingat minat baca dan minat membeli buku di Indonesia masih sangat rendah, berapa banyak sih pajak buku yang bisa ditarik pemerintah? Tidak terlalu banyak. Setidaknya, jumlahnya tidak sebanyak yang mungkin bisa ditarik pemerintah dari bisnis-bisnis lain yang murni bisnis.

Kenapa pajak dari industri buku yang tak seberapa itu tidak diikhlaskan saja, untuk mencerdaskan rakyat Indonesia? Itu jauh lebih realistis, daripada gembar-gembor agar meningkatkan minat baca, tapi tidak mau melakukan apa-apa.

Sebagai penulis, sebagai pembaca buku, dan sebagai rakyat Indonesia, hanya satu itu yang saya harapkan dari pemerintah, terkait upaya meningkatkan minat baca (dan minat membeli buku). Hapuskan pajak buku! Karena, saya pikir, itulah tugas pemerintah, sementara tugas yang lain bisa ditangani pihak lain.

Bebaskan penerbit dari pajak, bebaskan penulis dari pajak, bebaskan penjualan buku dari pajak. Cukup itu saja, saya pikir harga buku bisa turun drastis, sementara jumlah buku yang terbit akan naik drastis. Persoalan bagaimana meningkatkan minat baca, biarlah diusung bareng-bareng penerbit, penulis, dan pihak lain, toh mereka juga punya kepentingan agar orang-orang membeli dan membaca buku. Pemerintah tidak usah pusing!

Jadi, sekali lagi, cukup hilangkan pajak sialan yang memberatkan itu, dan biarkan kami—rakyat Indonesia—mencintai buku!

Noffret’s Note: Lincoln

Sudah bertahun lalu menonton "Abraham Lincoln: Vampire Hunter". Setiap kali menontonnya lagi, ketakjubkanku tak pernah hilang.

Bagian-bagian kisah (bahkan kalimat-kalimat) dalam "Abraham Lincoln: Vampire Hunter" benar-benar sesuai kisah asli. Itu sangat mengagumkan.

"Kau tak bisa menyelamatkan dunia sekaligus orang yang kausayangi. Kau harus menentukan pilihan." —Henry Sturges kepada Abraham Lincoln.

"Aku tak akan mundur dari apa yang benar, hanya karena itu sulit." —Mary Todd Lincoln

Novel maupun film "Abraham Lincoln: Vampire Hunter" adalah cerita yang seru sekaligus indah. Dan Mary Todd adalah mbakyu.

"Orang yang biasa saja adalah yang terbaik di dunia. Karena itulah Tuhan menciptakan banyak orang seperti mereka." Kalimat Mary ini otentik.

Cerita vampir dalam "Abraham Lincoln: Vampire Hunter" jauh lebih indah dan masuk akal bagiku, dibanding, misalnya, dalam Twilight.

Membayangkan Lincoln menjadi pemburu vampir terdengar absurd. Tapi saat diceritakan Seth Grahame-Smith, hasilnya realistis.

Seth Grahame-Smith, pengarang "Abraham Lincoln: Vampire Hunter", benar-benar genius menggabungkan sejarah otentik dan imajinasi gila.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 25 Juli 2017.

Minggu, 10 September 2017

Puncak Kenikmatan

Salah satu kenikmatan hidup adalah menikmati makanan
yang benar-benar kita suka. Kebalikannya adalah siksa.
@noffret


Di mana-mana ada restoran atau rumah makan mewah, yang biasa didatangi kalangan atas, termasuk para selebritas. Di dekat tempat tinggal saya juga ada rumah makan semacam itu, bahkan pernah menjadi langganan saya untuk makan malam. Tidak perlu saya sebutkan namanya. Yang jelas, rumah makan itu menyediakan masakan Indonesia, dan karena itu pula saya cocok makan di sana.

Ada banyak menu yang disediakan rumah makan tersebut, dan nyaris semuanya saya suka. Karena ditujukan untuk kalangan atas, harga makanan di sana pun tergolong mahal. Satu kali makan di sana menghabiskan biaya yang setara dengan uang jajan saya satu bulan di SMA. Karenanya, meski telah mengetahui rumah makan itu sejak SMA, dulu saya tidak pernah berani masuk ke sana.

Kini, setelah punya cukup uang untuk makan enak, saya mulai masuk ke sana. Belakangan, karena cocok dengan masakannya, saya sering ke sana untuk makan malam. Bahkan, ada periode ketika saya setiap malam makan di sana, karena penasaran dengan semua menu yang disediakan. Jadi, malam ini saya makan nasi tomat, besok menikmati sate, dan begitu seterusnya, sampai semua yang ada di buku menu telah saya coba.

Selain makanannya sangat enak, rumah makan itu juga sangat nyaman. Luas, bersih, dan hening. Biasanya, saya duduk sendirian di satu meja, lalu menikmati makanan yang saya pesan. Apa pun yang saya makan, semuanya enak, dan selalu pas dengan selera saya. Oh, well, bahkan tehnya pun enak! Seusai makan, sambil menikmati kenyang yang begitu nikmat, saya menyulut rokok, menikmati keheningan di sana, dan berpikir betapa hidup ini indah.

Mungkin sekitar tiga tahun saya menjadi pelanggan rumah makan tersebut, setiap malam datang ke sana, menikmati makan malam yang sangat nikmat terus menerus. Semula, saya pikir, kenikmatan itu akan berlangsung selamanya. Maksud saya, semua makanan enak yang setiap malam saya nikmati itu akan terus enak, hingga saya akan terus makan di sana. Ternyata tidak. Pada satu titik tertentu—dan ini sungguh mengejutkan—saya bosan makan di sana.

Mungkin terdengar berlebihan, bahwa sekian tahun lalu—saat masih remaja—saya tidak berani masuk rumah makan tersebut, karena ketiadaan uang. Sekarang, saya bisa makan di sana setiap malam, dan sekarang sudah bosan! Karenanya, itu mengejutkan, bahkan bagi diri saya sendiri.

Saya benar-benar terkejut ketika mulai menyadari tidak lagi berminat makan di sana. Bukan karena kekurangan uang, tapi karena kehilangan selera. Semua yang semula sangat nikmat, kini terasa biasa saja. Menu makanan yang semula mampu menerbitkan liur, kini terasa hambar. Yang semula sangat nikmat di lidah, hingga saya menggilai, kini terasa biasa. Puncaknya, saya tidak lagi datang ke sana.

Setelah bosan makan di tempat itu, apakah saya mencari tempat makan yang lebih mewah dan lebih mahal? Tidak! Rumah makan yang saya ceritakan itu paling mahal yang bisa saya temukan. Jadi, saya akan kesulitan jika ingin mencari yang lebih mewah lagi. Karenanya, ketika akhirnya bosan makan di sana, saya mencari makan di warung kaki lima!

Sebenarnya, saya tidak peduli makan di tempat mewah atau di kaki lima. Saya bisa makan di mana pun—asal nasinya cocok. Yaitu nasi yang ditanak secara tradisional (bukan dibuat menggunakan rice cooker), dan butir-butir nasinya saling terpisah serta tidak lengket. Asal nasinya memenuhi standar itu, saya bisa makan di mana pun, dengan lauk apa pun.

Meski persyaratan yang saya ajukan bisa dibilang sederhana, tapi mencari nasi yang memenuhi kualifikasi itu bisa dibilang sangat sulit. Ada banyak warung makan—dari kaki lima sampai bintang lima—yang menyediakan nasi “tidak akademis”, yaitu nasi yang menggumpal, serta lengket di tangan. Saya tidak bisa makan nasi semacam itu, tak peduli seenak dan semewah apa pun lauknya.

Karena latar belakang itu pula, saya agak kesulitan menemukan tempat makan yang cocok. Sering kali, nasi yang disuguhkan tidak memenuhi “standar akademis”, sehingga saya tidak doyan. Saya bahkan pernah tanpa sengaja masuk warung makan yang menyediakan soto, bersama bocah ini, ketika suatu malam kami sedang bersama. Nasi dan soto disuguhkan dalam wadah tersendiri. Ketika melihat nasinya—yang tampak menggumpal—saya mengernyit, dan berkata, “Itu nasi apa lem Glukol?”

Dia cekikikan. Tapi tetap bisa menikmati makanannya—nasi yang mirip lem Glukol itu. Sementara saya hanya menghabiskan soto di mangkuk, dan tidak sedikit pun menyentuh nasi.

Jadi, dalam urusan makan, saya sering kelayapan untuk menemukan tempat yang cocok—yang menyediakan nasi dengan “standar akademis”, sesuai selera saya—dan biasanya menjadi pelanggan di sana, ketika merasa cocok. Dalam upaya pencarian itulah, saya pernah menjadi pelanggan di beberapa rumah makan, di beberapa restoran, di beberapa warung kali lima, di beberapa angkringan, dan semuanya mencapai titik yang sama.

Bosan.

Tak peduli ke mana pun saya mencari, ujungnya adalah bosan. Tak peduli semula sangat menggilai, hasil akhirnya tetap kebosanan. Tak peduli seenak dan senikmat apa pun awalnya, rasa bosan selalu menjadi penutup.

Rasa bosan, bagi saya, adalah puncak kenikmatan—ketika kita tidak bisa lagi menggapai puncak yang lebih tinggi, karena nyatanya kita sudah sampai di puncak. Ironisnya, yang ada di puncak justru rasa bosan. Kenikmatan yang paling nikmat sekali pun, tetap sampai di sana. Di puncak. Pada kebosanan.

Makanan mewah, yang semula membuat kita bahagia saat menikmati, akhirnya sampai pada bosan. Masakan paling lezat, yang membuat kita mendadak lapar setiap kali melihat, akhirnya sampai pada bosan. Bahkan menu paling enak, yang semula kita puji setinggi langit, akhirnya tetap sampai pada bosan. Ketika kenikmatan telah tiba di puncak, kebosanan menunggu.

Kenyataannya memang tak ada yang abadi di dunia fana, termasuk kenikmatan makanan. Semuanya temporer—hanya menunggu waktu untuk sampai pada titik ketika kita tak lagi bisa mengelak dari rasa bosan. Lalu yang nikmat terasa hambar, yang istimewa terasa biasa.

Untung, dalam hal ini, kebosanan yang saya alami sekadar makanan. Namanya makanan, kita tentu boleh gonta-ganti seenaknya, dan tidak ada yang melarang. Asal merasa cocok, kita bisa menikmati suatu makanan sampai beberapa lama, lalu mencari makanan lain ketika mulai bosan. Begitu pula yang kadang saya lakukan.

Seperti rumah makan mewah yang pernah menjadi tempat saya makan setiap malam. Setelah sangat lama tidak datang ke sana, kadang timbul rasa kangen untuk kembali menikmati makanan di sana. Lalu saya pun datang dan kembali makan di sana. Tentu saja makanan itu masih memiliki kenikmatan yang sama, seperti yang dulu saya kenali pertama kali. Namun, kali ini, saya merasakannya biasa saja. Meski begitu, setidaknya, saya masih bergairah menyantap, karena sudah lama tidak makan di sana.

Lalu, di hari lain, saya mengunjungi tempat makan lain yang pernah menjadi langganan serupa. Mengenali kenikmatan yang dulu pernah memikat saya, mengunyahnya kembali, dan begitu seterusnya. Sekadar urusan makan, saya punya hak dan kebebasan untuk pindah-pindah makan di mana pun, dan tidak ada yang melarang.

Dalam hal itu, bagaimana pun, saya patut bersyukur, karena tidak ada aturan yang mewajibkan setiap orang harus setia pada satu rumah makan. Pasti akan sangat menyiksa kalau setiap orang harus terikat pada satu rumah makan—seumur hidup—dan tidak boleh makan di tempat lain, tak peduli bosan dan muak sekali pun. Pasti akan menyengsarakan kalau kita harus mengunyah makanan sama, dengan rasa yang makin lama makin hambar, dan kita sudah sampai pada rasa bosan, tapi setiap saat harus memakan hal yang sama.

Memikirkan kenyataan itu, kadang saya merasa getir sendiri. Orang-orang mencari dan memburu kenikmatan, bersedia melakukan apa pun demi kenikmatan, padahal yang ada di puncak kenikmatan justru rasa bosan. Setelah itu terjadi, semua kisah selesai. Apa yang bisa diceritakan dari kebosanan?

Sesal di Kesunyian

Aku tidak mau menjadi raja sehari hanya untuk menjadi budak seumur hidup.
Bukan karena keangkuhan, tapi karena pilihan.
@noffret


Seorang lelaki menggali tanah hingga sangat dalam. Tangannya bergerak, seiring cangkul menghantam dan mengeduk tanah—entah apa yang ia cari. Keringatnya bercucuran, sementara tenaganya tampak terkuras. Meski telah sangat kepayahan, dia tidak juga istirahat, hingga aku berpikir dia akan terus menggali sampai mati.

Di bibir lubang tanah yang digalinya, aku bertanya, “Apa yang Anda lakukan?”

Lelaki itu menghentikan kegiatannya, menatap ke arahku, lalu menyeka keringat di wajahnya yang seperti butiran jagung. Dengan suara lelah, dia menjawab, “Aku sedang menjalani tiga puluh tahun kesengsaraan, untuk menebus tiga puluh menit kenikmatan.”

Lalu dia melanjutkan pekerjaannya—menggali, menggali, menggali—meski aku tak tahu apa yang ia cari. Mungkin, ia pun tak tahu apa sesungguhnya yang ia cari. Dan ia akan terus menggali sampai kelelahan, sampai kepayahan, sampai ajal datang.

Sambil menatapnya, aku berpikir, “Orang-orang mengimpikan menjadi raja sehari, hanya untuk menjadi budak seumur hidup. Tertawa sesaat dalam kenikmatan, untuk menyesal bertahun-tahun di kesunyian. Alangkah malang manusia....”

Bocah Stres Ngomong Jiwa

Ooh, bocah stres ngomong jiwa.

Oh, oh.

Selasa, 05 September 2017

Pusing Mikir Salamah

Kitaro mungkin wali.
@noffret


Pada 7 April 2011, Kitaro konser di Plenary Hall, JCC, Senayan. Sejak pertama kali mendengar Kitaro akan konser di Jakarta, saya sudah siap-siap untuk menonton. Tidak setiap saat Kitaro konser di Indonesia, jadi saya pun bergairah sekali waktu itu.

Tetapi, sayang sekali, dua hari sebelum hari H, saya meriang parah. Pada 7 April, saat Kitaro benar-benar datang ke Jakarta dan konser di JCC, saya terkapar di tempat tidur. Tak perlu dikatakan, nyeselnya sampai ke tulang sumsum.

Sampai berhari-hari sejak itu, saya tetap sedih dan menyesal, meski kondisi fisik mulai membaik. Ketika saya akhirnya kembali sehat, Kitaro sudah kembali ke Jepang—atau ke Amerika.

Penyesalan akibat peristiwa itu lama membekas di benak saya. Kitaro adalah segelintir musisi yang saya puja, sejak ABG sampai dewasa kini. Mendengarkan musiknya lewat CD saja, bisa membuat saya eargasme. Karenanya, batal nonton konsernya benar-benar membuat saya sedih setengah mati.

Well, sekitar dua bulan setelah Kitaro konser di Jakarta, ada teman yang mengabari kalau konser itu direkam dan diedarkan dalam bentuk VCD. Mendengar kabar itu, saya langsung pergi ke toko musik, untuk mencari VCD konser Kitaro. Pikir saya, biarlah tidak menonton konsernya, asal bisa melihat rekamannya.

Saya datang ke sebuah toko musik yang menyediakan CD dan VCD. Ketika saya masuk ke sana, si penjual sedang melayani seorang pembeli yang sepertinya sedang mencari CD lagu dangdut. Waktu itu, musik yang sedang dicoba/disetel adalah lagu dangdut Caca Handika, berjudul Undangan Palsu.

Karena yang melayani di toko cuma satu orang, saya pun berdiri di sana, menunggu, sambil melihat-lihat. Sambil menunggu, mau tak mau saya ikut mendengar lagu yang sedang disetel—Undangan Palsu-nya Caca Handika. Mungkin karena lagunya enak, liriknya “terjebak” di telinga saya, dan tak mau keluar. Berikut ini lirik lengkap lagu tersebut.

Kalau saja aku tahu
Salamah itu namamu
Tak mungkin aku hadiri
Pesta perkawinan ini

Engkau kirimkan surat undangan
Kau tulis nama palsu belaka
Semula aku tiada percaya
Dirimu tega khianat cinta

Kado yang kubawa ini
Tak kuasa aku berikan
Karena aku kecewa
Engkau binasakan cinta

Mengapa tega kau mengundangku
Atau kau sengaja menyakitiku
Sungguh hatimu tiada peduli
Kau anggap diriku tak punya hati


Berjuta sesal dalam hatiku
Mengenang nama dan cinta palsu


Setelah lirik itu terjebak masuk ke memori, saya sulit melupakan. Ada istilah ilmiah untuk menyebut fenomena semacam itu, yakni earworms. Earworms adalah kondisi ketika sebuah lagu terjebak masuk ke kepala seseorang, hingga mengisi suatu celah di dalam otak. Itulah yang saya alami.

Ketika lagu tersebut diputar di sana—di toko musik yang saya datangi—lagu itu masuk ke kepala saya, hingga saya sulit lupa. Susahnya, lagu itu bahkan menghantui saya sangat lama. Sebenarnya, bahkan sampai hari ini, hingga saya terpaksa menulis catatan ini.

Yang menjadikan saya sulit melupakan lagu itu, karena tampaknya ada yang sangat janggal pada lagu tersebut. Ada sesuatu yang tidak match, dan membingungkan, hingga saya terus memikirkannya. Perhatikan dua bait lagu ini.

Kalau saja aku tahu
Salamah itu namamu
Tak mungkin aku hadiri
Pesta perkawinan ini

Engkau kirimkan surat undangan
Kau tulis nama palsu belaka
Semula aku tiada percaya
Dirimu tega khianat cinta


Apakah lirik itu terdengar baik-baik saja? Memang. Tapi ada masalah yang sangat membingungkan dari lirik-lirik lagu tersebut.

Kalau saya tidak salah tangkap, lagu itu menceritakan Caca Handika (si penyanyi) mendapat undangan perkawinan dari seorang wanita. Di undangan, tertulis bahwa si mempelai wanita bernama Salamah. Lalu Caca Handika mendatangi undangan itu, dan menyadari bahwa ternyata Salamah adalah wanita yang dikenal Caca Handika dengan nama lain.

Ada kemungkinan, sebelumnya Caca Handika telah berkenalan dengan seorang wanita (dengan nama lain), lalu mereka menjalin cinta. Suatu hari, tiba-tiba, si wanita menikah dengan lelaki lain, dan dia mengirimkan undangan perkawinan pada Caca Handika. Di dalam undangan, tertulis nama asli si wanita, yaitu Salamah.

Tanpa prasangka, Caca Handika datang ke resepsi perkawinan, dan menyadari bahwa Salamah adalah wanita yang semula menjalin cinta dengannya. Karena itulah Caca Handika menyesal, sebagaimana tampak dalam lirik berikut, “Kalau saja aku tahu, Salamah itu namamu. Tak mungkin aku hadiri pesta perkawinan ini.”

Pertanyaannya, mengapa Caca Handika mendatangi pesta perkawinan tersebut?

Maksud saya begini. Ketika Caca Handika mendapatkan undangan perkawinan, dan di dalamnya terdapat nama Salamah sebagai mempelai wanita, tentunya Caca Handika tidak mengenali nama itu, kan? Kenapa dia tidak heran atau bertanya-tanya siapakah Salamah yang tertulis dalam undangan?

Pertanyaan itu patut diajukan, karena Caca Handika tampaknya sangat pede saat mendatangi pesta perkawinan, hingga menyiapkan kado untuk si pengantin. Hal itu diterangkan di bagian lirik berikut, “Kado yang kubawa ini, tak kuasa aku berikan. Karena aku kecewa, engkau binasakan cinta.”

Jadi—sekali lagi, kalau saya tidak salah tangkap—suatu hari Caca Handika mendapat undangan resepsi perkawinan, dari seorang wanita bernama Salamah. Caca Handika tidak tahu siapa Salamah. Tapi dia mendatangi pesta perkawinan itu, dan menyiapkan kado untuk Salamah, si mempelai wanita. Dari kenyataan itu, kita bisa menarik dua kemungkinan.

Kemungkinan pertama, Caca Handika mungkin berpikir, bahwa Salamah adalah temannya di masa lalu (misal kawan SD), yang mungkin telah terlupa dari ingatannya. Lalu Salamah si kawan SD ini menikah, dan mengundang Caca Handika. Jadi, sebagai kawan lama, Caca Handika pun mendatangi pesta perkawinan Salamah, sembari tak lupa menyiapkan kado. Setelah sampai di sana, eh... ternyata Salamah adalah wanita yang tempo hari menjalin cinta dengannya.

Kemungkinan kedua, Caca Handika sama sekali tidak tahu siapa Salamah. Jadi, ketika mendapatkan undangan pesta perkawinan yang di dalamnya terdapat nama Salamah, Caca Handika benar-benar blank, tidak tahu siapa Salamah. Tapi dia tetap datang ke acara perkawinan itu, bahkan menyiapkan kado untuk Salamah. Dalam hal ini, kita bisa mengasumsikan Caca Handika adalah lelaki saleh nan baik hati, yang tetap mendatangi undangan meski tidak mengenal si pengundang.

Dua kemungkinan itu tampaknya match untuk menjadi latar belakang kedatangan Caca Handika ke pesta perkawinan Salamah, yang ternyata adalah pacarnya sendiri. Tetapi, persoalan ini pun belum selesai. Karena, pada bait kedua lagu Undangan Palsu, terdapat kalimat berikut:

Engkau kirimkan surat undangan
Kau tulis nama palsu belaka
Semula aku tiada percaya
Dirimu tega khianat cinta


Perhatikan kalimat ini, “Engkau kirimkan surat undangan, kau tulis nama palsu belaka.”

Jadi, sebenarnya, Salamah itu nama asli atau nama palsu? Jika Salamah adalah nama asli, kenapa Caca Handika mengatakan, “Kau tulis nama palsu belaka”? Sebaliknya, kalau Salamah adalah nama palsu, kenapa nama itu bisa tertulis di undangan perkawinan? Di atas semua itu, sebenarnya nama yang mana yang dikenali Caca Handika terkait wanita tersebut? Salamah, atau nama lain?

Sejak tahun 2011 sampai sekarang, saya terus pusing memikirkan hal tersebut, dan tetap belum mampu menemukan jawaban yang masuk akal. Sepertinya saya layak mendapat Nobel untuk kerja keras pemikiran ini.

Well, saya mau cerita Kitaro, tapi malah melantur ke Salamah. Balik lagi ke topik awal, soal Kitaro. Urusan Salamah sepertinya terlalu berat bagi otak saya yang cetek ini. Semoga saja Stephen Hawking menemukan kasus ini, dan menyadari dia harus ikut memikirkannya.

Setelah menunggu cukup lama di toko musik, dan setelah si pembeli CD Caca Handika tadi menyelesaikan transaksi pembelian, saya pun bertanya pada si penjual di toko, “Ada VCD Kitaro?”

Si penjual memandangi saya dengan tatapan bingung. “Apa, Mas?”

“Kitaro,” ulang saya. “Saya lagi nyari VCD konser Kitaro. Ada?”

Masih dengan muka bingung, si penjual bertanya, “Uhm... Kitaro itu apa?”

Saya mimisan.

Dilema

Aku mencintai wanita dewasa yang tidak menikah. Cintaku kepadanya membuatku ingin menikahinya.

Tetapi, jika dia mau menikah denganku, artinya dia bukan lagi wanita dewasa yang tidak menikah.

Karena dia menikah—meskipun menikah denganku—aku khawatir tidak mencintainya lagi, karena aku mencintai wanita dewasa yang tidak menikah.

Kebenaran yang Diyakini sebagai Hoax

Air menjadi bensin.

Jumat, 01 September 2017

Cermin Buram

Kalau kita bercermin dan bayangan kita tampak buruk,
ada dua kemungkinan. Cermin itu sudah kusam,
atau diri kitalah yang memang kusam.
@noffret


Bayangkan selama bertahun-tahun kita tidak pernah bercermin, sehingga lupa seperti apa rupa atau wajah kita. Yang jelas, terakhir kali bercermin, wajah kita baik-baik saja, dan kita puas dengan bayangan dalam cermin. Kita merasa cakep, baik-baik saja, dan kita menjadikan hal itu sebagai kesan pada diri sendiri. Jadi, ketika bertahun-tahun kemudian tidak pernah lagi bercermin, kita yakin memang cakep dan baik-baik saja.

Padahal, selama bertahun-tahun, tentu ada perubahan yang terjadi, termasuk di wajah kita. Yang pria, misal, bulu-bulu wajah mungkin sudah lebat. Sementara yang wanita, kulit wajah bisa jadi kusam atau berjerawat. Atau perubahan-perubahan lain. Namun, karena tidak pernah bercermin, kita tidak tahu. Mungkin sesekali kita meraba wajah, dan mendapati ada hal-hal yang sebelumnya tidak ada, tapi kita merasa nyaman. Karena tidak pernah bercermin, dan karena kita menganggap diri baik-baik saja.

Jika selama lima tahun, misal, kita tidak pernah bercermin sama sekali, lalu bercermin di suatu hari, kira-kira apa yang mungkin kita alami? Kemungkinan besar terkejut. Karena mendapati wajah kita ternyata masih sama seperti lima tahun lalu, atau sebaliknya—mendapati wajah kita sudah jauh berubah dari lima tahun lalu. Apa pun hasilnya, terkejut kemungkinan menjadi reaksi paling umum untuk orang yang bertahun-tahun tidak bercermin.

Cermin hanyalah satu sarana untuk melihat seperti apa kita sesungguhnya, meski dalam hal ini hanya sebatas fisik. Melalui cermin, kita bisa melihat secara utuh seperti apa rupa kita. Melalui cermin yang lebih besar, kita bahkan bisa melihat secara utuh seperti apa tubuh kita, pantas atau tidak pakaian yang kita kenakan, dan lain-lain. Pendeknya, melalui cermin, kita bisa berusaha mengenali diri sendiri, melihat kelebihan dan kekurangan yang mungkin kita miliki.

Tapi cermin hanya satu sarana. Dan, kadang-kadang, bisa menipu.

Di rumah saya ada cermin berukuran sedang, yang memungkinkan saya berkaca saat menyisir rambut. Entah kenapa, saya merasa cakep setiap kali bercermin di situ. Mungkin karena saya memang cakep. Atau mungkin pula karena cermin di rumah jarang dibersihkan, sehingga tidak bisa merefleksikan rupa saya seutuhnya. Dan dalam keburaman cermin, saya menilai diri saya cakep. Bayangan itu pula yang saya percaya, sebagai kesan terhadap diri sendiri.

Suatu hari, saat belanja baju di swalayan, dan harus mencoba di kamar pas, saya berdiri di depan cermin, dan agak terkejut mendapati rupa saya seutuhnya. Cermin di kamar pas sangat bersih, tidak buram seperti di rumah saya. Dan melalui cermin yang bersih itu, saya bisa melihat diri seutuhnya, dan mendapati ternyata saya tidak secakep yang selama ini saya bayangkan.

Melalui cermin bersih di kamar pas, saya bisa melihat kulit wajah saya tidak semulus yang saya yakini, mata saya tidak seindah yang saya yakini, bibir saya tidak semerah yang saya yakini, pendeknya banyak hal yang berbeda dari yang selama ini saya yakini. Cermin buram di rumah telah menipu tanpa saya sadari, dan cermin bersih di kamar pas swalayan menghadapkan saya pada kenyataan.

Tetapi, sekali lagi, cermin hanya satu hal, atau satu sarana, untuk berkaca, untuk belajar objektif menilai diri sendiri. Kemampuan cermin dalam hal itu juga terbatas, karena hanya memungkinkan kita untuk menilai hal-hal yang bersifat fisik. Cermin tidak bisa menilai baik atau buruknya sifat kita, kebiasaan kita, gaya hidup kita, bahkan hati dan keyakinan-keyakinan kita. Untuk bisa menilai hal-hal di luar fisik, kita membutuhkan “cermin” yang lebih luas.

Suatu waktu, saya punya keperluan di luar kota. Kebetulan, di kota tersebut ada teman yang tinggal di sana. Jadi, ketika tahu saya akan datang ke kotanya, dia meminta agar saya menginap di rumahnya. Saya tidak punya alasan menolak, jadi saya pun menuruti permintaannya, dan selama tiga hari menginap di rumahnya. Tiga hari itu, kelak, menjadi cermin yang sangat mengejutkan.

Rumah teman saya sangat steril, dalam arti bersih dan sehat mirip rumah sakit. Saya nyaris tidak bisa menemukan secuil debu pun di lantai rumahnya yang luas. Ada empat pekerja yang tiap hari di sana—satu sekuriti, satu tukang kebun, satu juru masak, dan satu lagi bertugas memastikan rumah dalam keadaan selalu bersih.

Bersama empat pekerja yang tiap hari di rumahnya, teman saya tinggal bersama istri dan satu orang anak. Teman saya tidak merokok, dan hal itu tampaknya ikut menjadikan rumahnya sangat bersih, sekaligus sehat. Tidak ada debu, tidak ada abu rokok, juga tidak ada asbak. Hal terakhir cukup merepotkan saya selama tinggal di sana, karena bagaimana pun saya butuh asbak agar dapat merokok dengan nyaman.

Selama tinggal di rumah teman, saya menempati kamar di lantai atas. Ketika masuk kamar itu pertama kali, suasana kamar serupa dengan suasana ruangan lain di sana—bersih, steril, mirip rumah sakit. Di kamar itu pula, selama tiga hari, saya banyak menghabiskan waktu—menulis, membaca buku, termasuk merokok.

Mula-mula, saya merasa segalanya berjalan baik-baik saja, tidak ada keanehan atau hal-hal yang menarik perhatian. Tetapi, memasuki hari ketiga, saya mulai menyadari bahwa di kamar yang saya tempati muncul aroma tidak sedap. Kamar itu masih bersih, seperti semula, tapi muncul bau menyengat. Tanpa diberitahu siapa pun, saya tahu aroma tidak sedap itu berasal dari asap rokok saya yang selama itu mengepul di sana.

Kenyataan itu menampar kesadaran saya dengan keras.

Selama bertahun-tahun, saya tinggal di rumah sendiri, merokok setiap hari, dan tidak pernah menyadari bahwa aktivitas itu memunculkan aroma tidak sedap. Asap rokok yang terus mengepul, tanpa sempat saya lihat, mungkin menempel di langit-langit rumah, di dinding-dinding, di berbagai perabotan, dan lain-lain. Tetapi, selama bertahun-tahun, saya tidak pernah menyadari keberadaan aroma yang mungkin tidak sedap, karena terbiasa.

Saya terlalu terbiasa dengan rumah saya sendiri, beraktivitas setiap saat di dalamnya, merokok di mana saja saya ingin, dan tidak pernah sedetik pun menyadari keberadaan aroma tidak sedap yang mungkin ditimbulkan aktivitas merokok yang saya lakukan. Itu mengerikan, kalau dipikir-pikir, betapa sesuatu yang mungkin buruk sekali pun bisa jadi tidak kita sadari, jika kita telah terbiasa dengannya.

Selama ini, saya sering heran dengan orang-orang yang tampak “terlalu sensitif” dengan asap rokok atau bau rokok. Berdekatan dengan orang merokok saja, mereka tampak tidak nyaman. Terkena sedikit asap rokok saja, mereka sudah ribut. Selama itu, saya tidak pernah memahami apa yang mereka rasakan sesungguhnya, terkait rokok dan asap yang terpapar pada mereka. Bagaimana pun, saya perokok, dan kondisi itu menjadikan saya menilai rokok “baik-baik saja”. Karenanya, saya heran ketika melihat ada orang yang tampak terganggu hanya oleh sedikit asap.

Ketika saya mendapati munculnya aroma tidak sedap di kamar yang saya tinggali di rumah teman, saya pun akhirnya menyadari... bahwa itulah kenyataannya. Kenyataaan yang sebelumnya tidak pernah saya sadari.

Sebelum saya masuk rumah teman untuk menginap di sana, rumah itu sangat bersih sekaligus steril. Tidak ada orang merokok di sana, sehingga bau rokok—seperti apa pun—juga tidak ada. Ketika saya masuk ke sana, dan merokok, dampak yang timbul segera terasa. Khususnya pada kamar yang saya tempati selama tiga hari. Kamar yang semula bersih dan segar mulai memunculkan aroma tak sedap.

Kenyataan itu tentu berbeda dengan rumah saya sendiri. Di rumah, saya merokok setiap saat, di ruang mana pun, di bagian mana pun. Akibatnya, aroma tidak sedap yang mungkin muncul tidak tercium. Atau mungkin tidak tercium oleh hidung saya, karena sudah terlalu biasa ada di dalamnya. Bagaimana pun, kebiasaan menumpulkan indra kita.

Munculnya aroma tidak sedap yang saya dapati di rumah teman, akhirnya menjadi cermin bagi saya untuk berkaca, bahwa yang saya lakukan selama ini—khususnya merokok—ternyata tidak “baik-baik saja” sebagaimana yang saya pikirkan dan saya yakini. Bagaimana pun, aktivitas itu menimbulkan dampak, salah satunya aroma tidak sedap, yang meski mungkin tidak saya sadari, tapi disadari orang lain.

Ketika pamit dari rumah teman, saya pun meminta maaf atas munculnya bau tak sedap dari aktivitas merokok yang saya lakukan di sana. Teman saya hanya tertawa, tapi saya yakin pekerja di rumahnya harus bekerja keras untuk menghilangkan “jejak” yang telah saya tinggalkan di sana. Sejujurnya saya sangat tidak enak atas hal itu.

Sejak itu pula, saya pun makin hati-hati setiap kali akan merokok, khususnya kalau di dekat saya ada orang lain, yang bisa jadi tidak merokok atau sensitif dengan aroma rokok. Bagaimana pun, yang saya anggap “biasa”, bisa jadi “tidak biasa” bagi orang lain, dan bisa pula mengganggu kenyamanan mereka. Kita mungkin terbiasa karena memang biasa melakukan, tapi orang lain belum tentu sama.

Kita membutuhkan cermin untuk berkaca, untuk menilai diri, dan kemampuan kita dalam hal itu ditentukan oleh cermin yang jernih, sekaligus kesadaran untuk mau mengakui apa yang kita lihat di cermin. Karena bayangan buruk yang mungkin kita dapati bukan salah cermin, tapi karena kita jarang bercermin... atau selama ini cermin yang kita gunakan sudah terlalu buram.

Jatuh Cinta pada Perempuan yang Ternyata Sudah Punya Pacar

Pertanyaan:

Saya jatuh cinta pada seorang perempuan, teman sekampus. Sejak pertama kali melihat, saya langsung tertarik kepadanya. Namun, sebelum sempat pedekate, saya kemudian tahu ternyata dia sudah punya pacar. Jadi, saya tidak mungkin melanjutkan rencana pedekate. Apa yang harus saya lakukan?

Jawaban:

Yang harus kaulakukan, my friend, adalah bersyukur. Bersyukur karena dia telah punya pacar, dan bersyukur karena rencanamu tidak dilanjutkan. Sepuluh tahun yang akan datang, kau akan memahami yang saya katakan hari ini. Jika belum paham, mungkin dua puluh tahun yang akan datang.

 
;